FLASHBACK, it's time to evaluate my self :)
Rabu, 29 Desember 2010
01.57 am, my lovely room, BSD
Lagi, untuk kali yang tak terhitung, aku gak bisa tidur. Begitu banyak hal yang terlintas dan aku pikirkan, hanya bolak-balik di tempat tidur, mencoba memejamkan mata, tapi tetap tak bisa terlelap. tiba-tiba hasratku untuk menulis kembali muncul. Rasanya ingin meluapkan begitu banyak kata-kata.
Akhirnya aku memutuskan untuk menyalakan laptop, membuka program winamp dan memutar lagu kesukaanku yang tidak aku mengerti artinya, namun selalu membuatku nyaman mendengarnya. Ini lagu pertama yang aku dengar dari band ini dan aku langsung jatuh cinta pada band ini. Sigur ros, pernah dengar band ini? Sigur Ros adalah band yang berasal dari Icelandia dengan mengusung genre post rock. Ya, lagu yang kudengar saat ini adalah lagu berjudul Staralfur, salah satu karya Sigur Ros yang membuat aku jatuh cinta dengan Post rock, Icelandic and Russian postrock music dan broken English Russian accents. J

>>> Vocalist and Guitarist of Sigur Ros, he is Jonsi :D
Hei, knapa aku jadi ngebahas Sigur Ros ya?
Haha.. yasudahlah, kembali ke pembicaraan awal. Ya, banyak hal yang aku pikirkan. Semua yang telah aku alami hingga umurku yang saat ini genap 21 tahun, 6 bulan, 27 hari. Hari ini, kurang dari 72 jam tahun 2010 akan berganti hari baru, tahun baru. Aku terflashback akan semua yang terjadi padaku, setahun belakangan ini, dan semua yang aku alami selama ini. Tiba-tiba tadi pun aku teringat dengan teman-teman terdekatku selama setahun belakangan, sebuah senyuman tersungging di wajahku. Aku bergerak mengambil handphone dan mengirimkan sebuah pesan singkat kepada mereka yang berisikan “J” tanpa ada pesan lain. Aneh? Ya, mungkin aneh. Hehe..
Dalam flashback yang terlintas di kepalaku, begitu banyak hal yang menyadarkanku bahwa aku belumlah menjadi “apa-apa”. Yah, beberapa waktu ke belakang membuatku banyak berpikir, mungkin lebih tepatnya, intropeksi diri. Ternyata banyak hal, banyak sisi dalam diriku yang belum aku benahi.
Contoh kecil, aku selalu berdoa dalam setiap solatku dalam setiap kesempatan memohon pada Sang Khalik agar kelak Ia memberikan aku jodoh yang terbaik untukku, keluargaku dan semua orang sekelilingku. Terbaik bagiku dunia-akhirat.
Namun, aku tersadar, mengingat salah satu pesan kecil Mario Teguh dalam salah satu presentasinya bahwa
“Sebelum kau menuntut atau meminta seseorang/pasangan menjadi sesuai yang kau inginkan, yang memuliakan dirimu, yang ‘meninggikan’ dirimu, maka buatlah dirimu sendiri menjadi pantas untuk diinginkan orang sepertinya, pantas untuk dimuliakannya, dan pantas untuk ditinggikannya”
Sebuah pesan kecil yang dampaknya sangat besar untukku. Intropeksi diri dalam berbagai sisi beberapa waktu belakangan aku lakukan, dan ternyata aku menemukan begitu banyak hal yang memang harus segera aku benahi agar menjadikan diriku pantas untuk menjadi pasangan dari jodohku kelak, jodoh yang aku impikan, terbaik bagiku dunia akhirat. Insya Allah, Amin.
Ya, dan pesan kecil itu memang membuatku banyak berpikir, ketika aku menginginkan seseorang yang kelak bisa menjadi imam yang baik bagiku dan keluargaku, yang bisa membimbing keluarga kami kelak untuk selalu berada di jalan-Nya, untuk selalu menjunjung paham bahwa mencintai Allah adalah hal yang paling utama. Aku menginginkan seseorang yang berilmu, sehingga bisa memberikan aku dan keluargaku banyak pelajaran duniawi, kehidupan dan agama. Begitu banyak hal yang aku inginkan, mungkin seperti yang dikatakan orang-orang gambaran pasangan ideal bagiku.
Tapi, ya, pesan yang disampaikan Mario Teguh itu begitu ‘melecutku’. Membuatku bertanya pada diriku sendiri, “Sudah pantaskah aku menjadi wanita yang kelak akan dicintai dan hidup dengan lelaki yang aku impikan itu?” Haha.. dan tentu kalian sudah tau jawabannya. Tidak! Ups, aku ralat, bukan tidak, tapi belum. Belum berarti akan, ya, aku akan membuat diriku pantas untuk lelaki yang aku impikan dan kini aku sedang menapaki jalan tersebut. Berat memang, ya tapi inilah hidup. Jika tidak berat dan tidak ada tantangan, kau tidak akan menjadi sesuatu yang ‘besar dan hebat’ bukan? Seseorang menjadi hebat karena dia telah berhasil menaklukan tantangan dalam hidupnya, dan tantangan terbesar adalah menaklukkan dan mengalahkan dirimu sendiri.
Itu hanyalah contoh kecil dari apa yang aku pikirkan, namun begitu banyak hal lain yang aku pikirkan, yang menjadi bahan untuk mengevaluasi apa yang telah aku lalui, apa yang telah aku alami. Bahkan tak terasa, ketika kening ini bersujud menyembahNya pada waktu Isya tadi, bulir-bulir air mata membasahi sajadahku. Teringat akan begitu banyak dosa yang telah kuperbuat, begitu banyak nikmat yang aku dustakan, begitu banyak kewajiban yang aku lalaikan. Astagfirullah.
“Ya Allah, Our Greatest Lord, Sang penguasa masa lalu dan yang akan datang, Alhamdulillah, terimakasih kau telah mengizinkanku untuk sampai pada fase ini, memberikanku kesempatan untuk intropeksi diri, meniupkan rezeki untukku berpikir mengenai apa yang selama ini aku lakukan dan apa yang harus aku lakukan esok hari dan seterusnya. Sesungguhnya aku hidup hanya untuk mengharapkan RidhoMu, ya Rabb. MAka berikanlah aku waktu dan kesempatan untuk membenahi banyak hal dalam diriku ini. Amin Allahuma Amin.”
I’m so grateful for being me, as Amanda Putri Afrili. Grateful for having a lot of great people around me that give me huge experiences and chances for me to learn many things.
And tonight I’m so grateful that I have ‘that Insomnia thing (-like mas Radit say)’, so I can use this insomnia time to write everything that running in my mind.
And you, yea, you who read this notes, thanks for being one of them, Great people around me. J
So many things to think, and so much to do, to be a better person. Each time, each day.
Jazakumullah Khairan Katsiron. J
Wallahu’alam.
Warm Regards,
Amanda Putri Afrili
